Puisi
Pengertian Puisi: Jenis-Jenis, Unsur,
Cara Membuat Puisi, dan Lengkap dengan Contoh Puisi

Pengertian Puisi –
Siapa sih yang tidak suka dengan puisi? Kata-kata yang indah dengan syair yang
penuh makna. Kadang ketika membaca atau mendengarkan puisi bahkan bisa sampai
baper (bawa perasaan).
Tapi tahukah kalian yang dimaksud puisi itu
apa? Sebelum memulai membuat puisi, pembaca sebaiknya mengetahui pengertian
puisi atau makna puisi terlebih dahulu.
·
Pengertian Puisi
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Puisi atau sajak merupakan ragam sastra
yang bahasanya terikat oleh irama, mantra, rima serta penyusunan larik dan
bait. Biasanya puisi berisi ungkapan penulis mengenai emosi, pengalaman maupun
kesan yang kemudian dituliskan dengan bahasa yang baik sehingga dapat berima
dan enak untuk dibaca.
Beberapa para ahli dalam bidang sastra
telah menjelaskan pengertian puisi, salah satunya adalah H.B Jassin, menurut
beliau puisi adalah suatu karya sastra yang diucapkan dengan perasaan dan
memiliki gagasan atau pikiran serta tanggapan terhadap suatu hal atau kejadian
tertentu.
Sumardi, juga berpendapat bahwa puisi
adalah sebuah karya sastra dengan menggunakan bahasa yang telah dipadatkan,
dipersingkat serta diberi irama bunyi sehingga dan memiliki kata-kata bermakna
kiasan atau imajinatif. James Reeves mengemukakan pula pengertian puisi.
Menurut James puisi adalah ungkapan bahasa yang memiliki kaya serta daya pikat.
Selain Sumardi, H.B Jassin serta James
Reeves, ahli sastra lain yaitu Herman waluyo berpendapat bahwa puisi adalah
suatu karya sastra yang mengungkapkan pikiran serta perasaan penyair secara
imajinatif dan disusun dengan memfokuskan kekuatan bahasa dalam struktur fisik
serta struktur batin.
Dari pengertian yang dikemukakan oleh para
ahli dan KBBI dapat disimpulkan bahwa :
Puisi adalah karya sastra yang berisi
tanggapan serta pendapat penyair mengenai berbagai hal. Pemikiran penyair ini
kemudian dituangkan dengan menggunakan bahasa-bahasa apik serta memiliki
struktur batin dan fisik khas penyair.
Pemikiran penyair dituliskan dengan
menggunakan beragam pemilihan kata yang indah, sehingga dapat memikat para
pembaca. Puisi memiliki nilai estetika yang berbeda-beda bergantung penulis
puisi. Setiap penyair biasanya memiliki kekhasan dalam menulis puisinya.
Dalam membuat sebuah puisi juga harus
menentukan ide, judul, dan masih banyak lagi yang dapat kamu pelajari pada buku
Kumpulan Tips Menulis oleh
Rasibook.
Jenis-Jenis Puisi
Puisi memiliki dua jenis yang umum, yaitu
puisi lama serta puisi modern.
Puisi Lama
Jenis-jenis puisi lama berupa pantun,
syair, talibun, mantra dan gurindam. Sedangkan jenis-jenis puisi modern berupa
puisi naratif, puisi lirik dan puisi deskriptif.
Puisi lama, yaitu mantra merupakan jenis
puisi yang dicipatakan dalam kepercayaan animism, biasanya dibacakan dalam
acara ritual kebudayaan serta menggunakan kata yang dapat menimbulkan efek
bunyi magis.
Pantun merupakan jenis puisi lama yang
bersajak a b a b dengan setiap baris terdiri atas empat baris, dua baris
sampiran dan dua baris isi. Sedangkan talibun terdiri dari sampiran dan isi
lebih dari empat baris dan selalu genap, contohnya dua baris sampir dan dua
baris isi.
Syair memiliki larik empat bait dan
bersajak a a a a serta isinya mengisahkan suatu hal, dan gurindam merupakan
jenis puisi lama yang terdiri atas dua baris, berirama sama, isinya baris pertama
adalah sebab sedangkan baris kedua berisi akibat.
Puisi Modern
Puisi modern biasa disebut puisi bebas,
karena tidak terikat oleh rima, jumlah baris dan lain sebagainya.
Jenis puisi modern, yaitu puisi naratif
merupakan puisi yang digunakan untuk menyampaikan suatu cerita, dibedakan
menjadi tiga yaitu epic, romansa dan balada. Jenis kedua puisi modern adalah
puisi lirik yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan penyair, jenis terakhir
puisi moderen adalah puisi deskriptif, yaitu puisi yang mengemukakan pendapat
serta kesan penyair.
Dalam menyusun berbagai jenis puisi harus
memiliki kreativitas dalam diri serta cara yang baik. Hal tersebut
dapat Grameds pelajari pada buku Terampil Tips & Trik Menulis
Laporan, Opini, Cerpen, Puisi, Pantun.
Ciri-Ciri Puisi
Ciri-Ciri Puisi ini dibagi berdasarkan
jenis dari puisi itu sendiri. Namun, ada ciri-ciri puisi secara umum. Berikut
penjelasan tentang ciri-ciri puisi secara umum dan berdasarkan jenisnya.
Ciri-Ciri Puisi Secara Umum
1. Penggunaan diksi umumnya memiliki unsur
yang indah dan berupa diksi kiasan
2. Penggunaan diksi lebih memerhatikan rima
serta persajakan agar menghasilkan bunyi yang indah
3. Dalam penulisannya menggunakan bait-bait
yang di mana didalamnya terdiri dari beberapa baris
4. Pengunkapan alur, tokoh, dan sebagainya
tidak begitu diperlihatkan
5. Penggunaan diksi majas cukup banyak.
Ciri-Ciri Puisi Lama
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya
bahwa puisi dibagi menjadi dua jenis, yaitu puisi lama dan puisi baru. Di bawah
ini akan disebutkan beberapa ciri dari puisi lama.
1. Gaya bahasa yang digunakan cenderung
klise atau statis
2. Umumnya berasal dari sastra lisan yang
disampaikan dari individu yang satu ke individu lainnya
3. Penulis puisi cenderung tidak diketahui
atau biasa disebut dengan istilah anonim
4. Terpaku pada banyaknya rima, irama,
baris, dan intonasi atau bunyi dari puisi itu sendiri
Ciri-Ciri Puisi Modern
Setelah Ciri-ciri puisi lama, maka
pembahasan selanjutnya adalah ciri-ciri puisi modern.
1. Gaya bahasa yang digunakan memiliki
sifat yang dinamis atau bisa dibilang tidak ada acuannya, sehingga berubah-ubah
2. Umumnya, puisi terdiri dari dua sampai
empat baris dalam satu bait dan tidak begitu terpaku dengan akhiran pada setiap
barisnya
3. Biasanya, isi dari puisi modern tentang
keresahan yang ada di dalam diri penulis itu sendiri
4. Dalam satu barisnya cenderung
menggunakan satuan sintaksis atau “gatra”
Unsur Puisi
Pada dasarnya, unsur atau struktur puisi
ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu struktur batin puisi dan struktur fisik
puisi.
Unsur Batin Puisi
Struktur batin puisi bisa dikatakan sebagai
unsur pembentuk puisi. Strukur batin puisi masih dibagi menjadi 4 struktur,
yaitu:
1. Rasa
Struktur rasa ini dapat diartikan sebagai
sentuhan rasa yang berasal dari penulis puisi. Biasanya, penulis puisi atau
penyair akan sebuah puisi karena latar belakang serta keresahan dari
penulis itu sendiri. Akan tetapi, ada juga penulis puisi yang menulis puisi
berdasarkan permasalahan yang sedang terjadi.
2. Tema
Tema pada puisi ini biasanya akan
menentukan hasil dari puisi itu sendiri. Oleh sebab itu, terkadang ada beberapa
penulis puisi yang lebih menyukai untuk menentukan tema dalam membuat puisi.
3. Amanat
Amanat merupakan sebuah pesan yang berisi
tentang kehidupan yang diberikan oleh penulis kepada pembaca. Amanat ini ada
yang dapat dijelaskan secara langsung dan ada juga yang dijelaskan dengan
menggunakan makna-makna tersirat.
4. Nada
Nada pada puisi dapat diartikan sebagai
bunyi dari puisi yang dibuat oleh penulis atau penyair. Nada yang digunakan
bisa nada tinggi, nada rendah, dan lain-lain.
Unsur Fisik Puisi
Struktur fisik puisi merupakan unsur fisik
puisi, sehingga biasanya di dalam puisi akan terdapat unsur fisik puisi.
Berbeda dengan struktur batin puisi, struktur fisik puisi ini terdiri dari 6
struktur, yaitu:
1. Gaya Bahasa
Puisi yang sering kita baca ini biasanya
akan ada berbagai macam gaya bahasa dalam satu buah puisi. Dengan adanya gaya
bahasa, maka akan memunculkan makna konotasi, sehingga membuat pembaca puisi
tersentuh perasaanya.
2. Diksi
Bahasa pada puisi sangatlah pada, sehingga
setiap rangkaian katanya bisa memiliki makna tersendiri. Susunan kata pada
puisi itu sering dikenal dengan istilah diksi. Pemilihan diksi harus
memerhatikan kata-kata lainnya agar menghasilkan estetika bagi puisi itu
sendiri.
3. Tipografi
Puisi terdiri dari beberapa baris dalam
satu barisnya, kemudian pada bagian akhirnya terkadang diberi tanda baca yang
berbeda-beda. Tanda baca ini akan menentukan suasana yang ada di dalam puisi.
4. Rima
Rima pada puisi ini biasanya terletak pada
bagian akhir baris puisi. Dengan adanya rima, bunyi puisi akan menjadi lebih
indah.
5. Kata Konkret
Kata konkret merupakan kata-kata pada puisi
yang bisa mengarahkan ke imajinasi pembaca. Oleh karena itu, setelah membaca
puisi, bisa menghadirkan imaji bagi seseorang.
6. Imaji
Ketika membaca puisi akan lebih tersentuh
apabila menghubungkannya dengan indera manusia. Imaji merupakan imajinasi yang melibatkan
setiap indera manusia, biasanya imaji suara, imaji penglihatan, dan sebagainya.
Cara Menyampaikan Puisi
Selain ditulis, puisi juga dibacakan atau
disampaikan kepada pendengarnya. Adapun 3 cara yang sering digunakan dalam
menyampaikan puisi, yaitu:
1. Deklamasi Puisi
Deklamasi puisi adalah suatu cara
menyampaikan puisi yang menggunakan lisan, tetapi dalam penyampainyya dilakukan
dengan penuh perasaan, penjiwaan, dan penghayatan serta ketika membacakannya
kamu tidak perlu membawa teks puisi atau bisa dibilang sudah hapal isi puisi
tersebut. Selain itu, deklamasi puisi ini juga menggerakkan beberapa anggota
tubuh, seperti tangan, kaki, dan sebagainya.
2. Pertunjukkan Puisi
Cara kedua berupa pertunjukkan puisi dapat
diartikan sebagai pembacaan atau penyampaian puisi yang dilakukan pada suatu
acara. Pada umumnya, pertunjukkan puisi berupa dramatisasi puisi atau
musikalisasi puisi. Dramatisasi puisi merupakan isi teks puisi yang dibuat ke
dalam bentuk drama. Sedangkan musikalisasi puisi adalah puisi akan diubah
menjadi lagu.
3. Membacakan Puisi
Membacakan puisi merupakan penyampaian
puisi yang dilakukan melalui lisan dan biasanya ketika membacakannya teks puisi
akan dibawa ke atas pentas.
Cara Menulis Puisi
Tahap pertama
Membuat kerangka puisi, dimulai dari jenis
puisi yang ingin ditulis, kemudian perhatikan unsur puisi. Jika pembaca
ingin menulis puisi
lama, maka irama, rima sajak harus ditentukan terlebih dahulu agar pesan yang
ingin disampaikan dapat dimengerti oleh pembaca puisi.
Tahap kedua
Menentukan judul, penentuan judul di awal
dapat mempermudah pembaca untuk membatasi ungkapan atau emosi yang ingin
disampaikan melalui puisi.
Tahap ketiga
Proses kreatif yang dapat pembaca peroleh
melalui membaca referensi serta puisi atau berimajinasi.
Dalam proses membuat puisi, penggunaan diksi tidak perlu terlalu sulit, cukup
memulai dengan kata-kata yang familiar, dengan begitu pembaca akan mulai
terbiasa untuk membuat ragam puisi lainnya. Selamat berpuisi.
Contoh Puisi Berdasarkan Jenisnya
Setelah mengetahui jenis-jenis puisi, untuk
lebih paham maka berikut contoh-contoh puisi yang dapat penulis rangkum.
1. Mantra
Puisi lama mantra biasanya memiliki kata
atau ucapan yang dipercaya memiliki kekuatan gaib. Contohnya adalah salah satu
mantra yang dipercaya dapat mengobati sakit perut :
Gelang-gelang si gali-gali
Malukut kepada padi
Air susu kerus asalmu jadi
Aku sapa tidak berbunyi
Sapardi
Djoko Damono (2016)
Jampi
Dukun Betawi
Bismillah…
Mate jangan seliat-liatnye
Kuping jangan sedenger-dengernye
Lidah jangan sengomo-ngomongnye.
Mulut jangan semakan-makannye.
Muke jangan semerengut-merengutnya.
Bibir jangan sedower-dowernye.
Purut jangan sebuncit-buncitnye.
Jidat jangan selicin-licinnye.
Pale jangan sebotak botaknye.
Tangan jangan sepegang-pegangnye.
Kaki jangan sejalan-jalannye.
Kulit jangan sebuduk-buduknye.
InsyaAllah… Wabarakallah…
Nangis jangan sejadi-jadinye
Marah jangan sengamuk-ngamuknye
Otak jangan selupe-lupenye.
Hati jangan sekosong-kosongnye.
Darah jangan sekotor-kotornye.
Puah! Alhamdulillah
2. Pantun

Pantun adalah puisi lama yang memiliki
sajak abab dan setiap baris berisi delapan sampai 12 suku kata. Berikut salah
satu contoh pantun:
Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian
Baca
lebih lanjut :
3. Gurindam
Puisi lama gurindam memiliki ciri-ciri
yaitu terdapat bait yang terdiri dari dua baris serta bersajak aaaa. Berikut
salah satu contoh gurindam:
Contoh 1
Pikir dahulu sebelum berkata
Supaya terelak silang sengketa
Apabila anak tak dilatih
Jikalau besar bapaknya letih
Kurang pikir kurang siasat
Tentu dirimu kelak tersesat
Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala
Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada disangka
Contoh 2
Apabila mata terjaga.
Hilanglah semua dahaga.
Apabila kuping tertutup handuk.
Hilanglah semua kabar buruk.
Apabila mulut terkunci rapat.
Hilanglah semua bentuk maksiat.
Apabila tangan tidak terikat rapat.
Hilanglah semua akal sehat.
Apabila kaki tidak menapak.
Larilah semua orang serempak
4. Syair
Syair adalah puisi lama yang biasanya
berisi nasihat atau cerita, syair bersajak aaaa serta berisi empat baris dalam
satu bait. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut:
Ilmu didapat tiada cepat
Mesti sabar hatinya kuat
Semoga tuhan berikan rahmat
Maka jaga hati serta niat
5. Talibun
Talibun merupakan puisi lama yang termasuk
dalam jenis pantun serta terdiri dari bilangan genap pada setiap satu baitnya.
Contoh talibun adalah sebagai berikut:
Pergi merantau jauh ke negeri seberang
Janganlah lalai membawa perbekalan berupa makanan
Jika tersesat di perjalanan ingatlah peta yang kau bawa
Serta jangan malu mendatangi orang untuk bertanya
Jika engkau berbuat baik kepada semua orang
Niscaya kebaikan pula yang akan engkau dapatkan
Sudahlah engkau kan dapat pahala
Di dunia pun engkau akan hidup bahagia
6. Puisi Romansa
Romansa merupakan puisi moderen dan
berisikan mengenai kisah cinta atau perasaan penyair tentang cinta, salah satu
contoh puisi romansa adalah sebagai berikut:
a. Aku Ingin, oleh Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
b. Pacar Senja, oleh Joko Pinurbo
Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di
pantai.
Pantai sudah sepi dan tak ada yang peduli. sangat pendiam: ia
senyum-senyum saja
mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta
peluk, setengah saja, tersipu-sipu.
“Nanti saja kalau sudah gelap. Malu dilihat lanskap.”
Cinta seperti penyair berdarah dingin
yang pandai menorehkan luka.
Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.
Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu
melengos ke cakrawala, meninggalkan pacar senja
yang masih megap-megap oleh ciuman senja.
“Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat
kurapikan lagi waktu? Betapa lekas cium
menjadi bekas. Betapa curangnya rindu.
Awas, akan kupeluk habis kau esok hari.”
Pantai telah gelap. Ada yang tak bisa lelap.
Pacar senja berangsur lebur, luluh, menggelegak
dalam gemuruh ombak.
c. Cinta Tanpa Tanda, Oleh Sujiwo Tejo
Telah ku tandakan semesta cintaku
kau tandaskan cinta tanpa tanda
Kuhasratkan isyarat sahaja
kau isyaratkan pintaku terlampau
terlampau berprasyarat cintaku
Kau isyaratkan cinta tanpa tanda
Berulang berbulan berwewinduan (kurindu)
Kupejam kutajamkan asah rasa (kubaca tanda)
Mata kubutakan terawangku hanya dengan rasa (kubaca tanda)
Kuping hidung lidah rabaanku pun telah kuenyahkan (kubaca tanda)
Tipu daya panca indrapun telah tuntas kusingkirkan (kubaca tanda)
Kutandai kurasai semesta yang tak kasat mata
Katamu kumasih jadi budak pancaindra yang membuatku terkecoh
Baca
juga :
7. Balada
Balada merupakan salah satu jenis puisi
moderen yang menggambarkan cerita, puisi balada terdiri dari tiga bait, berikut
adalah contoh dari puisi balada.
a. Balada Orang-Orang Tercinta, oleh W.S
Rendra
Kita bergantian menghirup asam
Batuk dan lemas terceruk
Marah dan terbaret-baret
Cinta membuat kita bertahan
dengan secuil redup harapan
Kita berjalan terseok-seok
Mengira lelah akan hilang
di ujung terowongan yang terang
Namun cinta tidak membawa kita
memahami satu sama lain
Kadang kita merasa beruntung
Namun harusnya kita merenung
Akankah kita sampai di altar
Dengan berlari terpatah-patah
Mengapa cinta tak mengajari kita
Untuk berhenti berpura-pura?
Kita meleleh dan tergerus
Serut-serut sinar matahari
Sementara kita sudah lupa
rasanya mengalir bersama kehidupan
Melupakan hal-hal kecil
yang dulu termaafkan
Mengapa kita saling menyembunyikan
Mengapa marah dengan keadaan?
Mengapa lari ketika sesuatu
membengkak jika dibiarkan?
Kita percaya pada cinta
Yang borok dan tak sederhana
Kita tertangkap jatuh terperangkap
Dalam balada orang-orang tercinta
b. Perempuan yang Tergusur, oleh W.S Rendra
Hujan lebat turun di hulu subuh
disertai angin gemuruh
yang menerbangkan mimpi
yang lalu tersangkut di ranting pohon
Aku terjaga dan termangu
menatap rak buku-buku
mendengar hujan menghajar dinding
rumah kayuku.
Tiba-tiba pikiran mengganti mimpi
dan lalu terbayanglah wajahmu,
wahai perempuan yang tergusur!
Tanpa pilihan
ibumu mati ketika kamu bayi
dan kamu tak pernah tahu siapa ayahmu.
Kamu diasuh nenekmu yang miskin di desa.
Umur enam belas kamu dibawa ke kota
oleh sopir taxi yang mengawinimu.
Karena suka berjudi
ia menambah penghasilan sebagai germo.
Ia paksa kamu jadi primadona pelacurnya.
Bila kamu ragu dan murung,
lalu kurang setoran kamu berikan,
ia memukul kamu babak belur.
Tapi kemudian ia mati ditembak tentara
ketika ikut demonstrasi politik
sebagai demonstran bayaran.
Sebagai janda yang pelacur
kamu tinggal di gubuk tepi kali
dibatas kota
Gubernur dan para anggota DPRD
menggolongkanmu sebagai tikus got
yang mengganggu peradaban.
Di dalam hukum positif tempatmu tidak ada.
Jadi kamu digusur.
Di dalam hujan lebat pagi ini
apakah kamu lagi berjalan tanpa tujuan
sambil memeluk kantong plastik
yang berisi sisa hartamu?
Ataukah berteduh di bawah jembatan?
Impian dan usaha
bagai tata rias yang luntur oleh hujan
mengotori wajahmu.
kamu tidak merdeka.
Kamu adalah korban tenung keadaan.
Keadilan terletak di seberang highway yang berbahaya
yang tak mungkin kamu seberangi.
Aku tak tahu cara seketika untuk membelamu.
Tetapi aku memihak kepadamu.
Dengan sajak ini bolehkan aku menyusut keringat dingin
di jidatmu?
O,cendawan peradaban!
O, teka-teki keadilan!
Waktu berjalan satu arah saja.
Tetapi ia bukan garis lurus.
Ia penuh kelokan yang mengejutkan,
gunung dan jurang yang mengecilkan hati,
Setiap kali kamu melewati kelokan yang berbahaya
puncak penderitaan yang menyakitkan hati,
atau tiba di dasar jurang yang berlimbah lelah,
selalu kamu dapati kedudukan yang tak berubah,
ialah kedudukan kaum terhina.
Tapi aku kagum pada daya tahanmu,
pada caramu menikmati setiap kesempatan,
pada kemampuanmu berdamai dengan dunia,
pada kemampuanmu berdamai dengan diri sendiri,
dan caramu merawat selimut dengan hati-hati.
Ternyata di gurun pasir kehidupan yang
penuh bencana
semak yang berduri bisa juga berbunga.
Menyaksikan kamu tertawa
karena melihat ada kelucuan di dalam ironi,
diam-diam aku memuja kamu di hati ini.
8. Epik
Puisi epic merupakan salah satu jenis puisi
moderen yang berisi tuntutan atau ajaran hidup serta memiliki cerita
kepahlawanan. Berikut adalah contoh-contoh puisi epik oleh beberapa sastrawan
Indonesia.
a. Diponegoro, Oleh Chairil Anwar (Februari 1943)
Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tidak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda.
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup baru bisa merasai.
Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.
b. Karawang-Bekasi, Oleh Chairil Anwar
Kami yang ingin terbaring antara
Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam
sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan 4-5 ribu
nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yan tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau kami melayang untuk kemerdekaan
kemenangan dan
harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam
sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Beri kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Keang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi
Komentar
Posting Komentar